Secara administratif, saya ini lahir, tumbuh, dan besar di Pulau Jawa. NIK KTP saya diawali angka yang menandakan saya adalah warga lokal yang sah. Tapi kalau ada orang yang bertanya seberapa jauh jiwa dan nasab saya terikat dengan tanah Maluku, jawaban saya akan selalu tegas: Setengah.
Tidak kurang, tidak lebih.
Setengah darah dan kebahagiaan saya tertinggal di sana, di sebuah kepulauan yang indah, di balik riak gelombang laut dan naungan Gunung Gamalama.
Namun sebelum kita melangkah jauh sampai ke Maluku Utara, mari kita bicarakan dulu dua aktor utama yang bertanggung jawab atas lahirnya seorang Paus Minus ke dunia ini: Bapak dan Ibuk.
Kalau ada kompetisi etos kerja tingkat nasional, saya berani bertaruh bahwa kedua orang tua saya akan melenggang mulus ke babak final. Jiwa workaholic yang ada dalam diri saya hari ini jelas tidak jatuh jauh dari pohonnya. Bapak dan Ibuk adalah tipe piantun yang rasanya kurang cocok kalau disuruh menganggur.
Bahkan di era "pensiun" atau nganggur mereka saat ini, masih ada saja garapan yang dikerjakan. Hari ini benerin genteng, besok nambal pagar, lusa mendadak berkebun dengan skala produksi yang membingungkan. Dibandingkan dengan Menteri Tenaga Kerja, agaknya Bapak dan Ibuk saya jauh lebih melimpah pengalaman kerjanya di lapangan.
Bahkan dalam status resminya sebagai pengangguran hari ini, mereka berdua rasanya tidak lebih nganggur ketimbang Alisson Becker sewaktu Liverpool membantai Manchester United 7-0 di Anfield kala itu.
Alisson hari itu mungkin cuma berdiri sambil menguap, sesekali merapikan brewoknya, sementara Bapak dan Ibuk saya tetap sibuk mencari keringat.
Hobi mereka ya kerja. Coba kalau hobinya melukis seperti ex-presidente Bapak SBY, rasanya saat ini kami sudah punya museum seni sendiri di halaman belakang rumah.
Minusnya saya dari mereka berdua cuma satu: saya belum diberi kesempatan dan belum seratus persen berani untuk merantau sejauh yang mereka lakukan dulu.
Asal-usul mereka berdua ini kalau ditarik garis lurus sungguh perpaduan yang sangat unik.
Bapak adalah seorang pria berkulit lumayan gelap yang berasal dari sebuah desa di Trenggalek, tepat berada di bawah kaki bukit (yang saya sendiri lupa apa nama bukitnya). Sementara Ibuk berasal dari kaki bukit juga—yang lebih sering disebut Gunung Pegat—di Blitar. Ibuk berkulit lumayan putih bersih, lahir dari Nenek saya yang konon dulu dijuluki "Cino Jowo", meskipun secara nasab tidak ada trah darah Tionghoa-nya sama sekali.
Bayangkan perpaduan budaya dan karakter ini: orang Blitar yang identik dengan sifat kalem, lemah lembut, lentik, dan soft-spoken, mendadak harus berdampingan dengan orang dataran tinggi Trenggalek yang bernada bicara tinggi, keras, dan tegas.
Latar belakang pendidikannya pun jomplang. Bapak adalah lulusan STM (sekarang SMK), sementara Ibuk adalah lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Secara matematika sosial zaman itu, rumus mereka untuk bertemu itu hampir nol persen.
Tapi qodarullah, mereka justru diperjumpakan di tanah seberang antah berantah: Halmahera, Maluku Utara.
Lagi dan lagi, lokasi perjumpaan mereka tidak jauh dari urusan gunung dan bukit. Mereka dipertemukan di kaki Gunung Gamalama, bekerja di sebuah perusahaan milik pengusaha sukses ternama pada era Orde Baru. Saya tidak paham betul bagaimana tata laksana dan struktur organisasi perusahaan itu—Ibuk di bagian apa, Bapak di bagian apa. Yang jelas, kisah cinta mereka dirabuk dan tumbuh subur di sana.
Siapa sangka, perjalanan berhari-hari menaiki kapal laut pada masa itu tidak hanya membawa pulang uang saku ke kampung halaman, tapi juga membawa bonus berupa jodoh yang alhamdulillah sakinah hingga detik ini.
Kalau ditelisik lebih dalam lewat bisik-bisik dan cerita tutur keluarga, ada latar belakang yang agak absurd dari keputusan mereka merantau ke Maluku.
Bapak nekat melawat sampai ke Ternate konon gara-gara ogah-ogahan mau dijodohkan dengan pilihan orang tuanya di Trenggalek. Daripada dijodohkan, Bapak memilih kabur naik kapal laut sejauh-jauhnya. Sementara Ibuk sebetulnya tidak betul-betul niat merantau ke Maluku untuk jadi buruh pabrik. Tapi ya mau bagaimana lagi, kesejahteraan guru dari zaman baheula sampai sekarang di negeri ini kan ya begitu-begitu saja.
Ibuk itu tipe wanita yang ulet dan idealis—sifat yang agak mirip dengan saya. Melancongnya Ibuk ke Ternate sebetulnya adalah buah dari sedikit tragedi yang rumit, getir, sekaligus politis. Anda tahu sendirilah ya, iklim politik era Orde Baru waktu itu seperti apa...
Singkat cerita, menikahlah Bapak dan Ibuk di sana. Di Kota Ternate, Maluku Utara.
Iya, Anda tidak salah baca. Mereka menikah resmi di Ternate. Ini kalau sampai ada apa-apa atau musibah administrasi pada buku nikah mereka, saya yang bakal kelimpungan setengah mati. Saya harus (nauzubillah) ngurus birokrasi ke sana, yang mana harga tiket pesawat PP-nya saja sekarang sudah setara 90% biaya umrah satu orang!
Meskipun pada akhirnya pesta pernikahan ala adat Jawa tetap dihelat di Blitar dan Trenggalek, Ternate tetaplah saksi bisu dari janji suci mereka.
Di Ternate, Bapak dan Ibuk belajar membangun rumah tangga dari nol. Kehidupan mereka berangsur-angsur stabil. Sampai akhirnya lahirlah anak pertama mereka—seorang perempuan yang kini jadi Kakak saya—pada bulan Mei 1995.
Bisa dibilang, kehidupan Bapak dan Ibuk di sana sudah lumayan work-life balance, walaupun belum sampai level financial freedom ala influencer zaman sekarang. Konon, di rumah kontrakan mereka saat itu sudah ada Play Station (PS), TV berwarna, gamebot, kamera Kodak roll, sampai radio tape. Kalau dikategorikan memakai indikator sensus sosial zaman sekarang, keluarga kami saat itu mungkin sudah masuk Desil 10 alias kalangan kelas atas di wilayah tersebut.
Ya begitulah, sesekali kita perlu mensyukuri nikmat-nikmat di masa lampau, bahkan meskipun waktu itu saya sendiri belum lahir ke dunia. Kita harus belajar menghargai sejarah, biar tidak kalah sama fans MU dan Arsenal yang hobi mengglorifikasikan kejayaan masa lalu itu.
Kakak saya lahir dan menikmati masa kecil yang indah di Maluku. Betapa beruntungnya dia, Gusti! Sebuah kecemburuan sosial antar-saudara yang sampai detik ini masih terasa sangat membakar di sanubari saya.
Hampir 20 tahun Bapak dan Ibuk hidup di sana. Kalau mau mengklaim diri sebagai akamsi (anak kampung sini) Ternate pun rasanya mereka sudah sangat layak.
Namun, tidak ada roda kehidupan yang berputar di atas selamanya.
Hingga tibalah era di mana republik ini mengalami masa-masa paling kelam dalam sejarah modernnya. Maluku dan Ternate ikut terseret dalam gelombang konflik horizontal yang tidak usah saya sebutkan detailnya. Di situlah seni merawat cinta Ibuk dan Bapak benar-benar diuji sampai batas paling ekstrem: cinta pada istri, cinta pada suami, cinta pada anak, dan cinta pada Gusti Allah.
Harta itu memang cuma titipan. Cepat atau lambat durasi penitipannya, semua tergantung Yang Punya. Itu riil.
Barang-barang hunian mewah yang dulu jadi wahana bermain Kakak dan rumah Bapak-Ibuk raib seketika dalam sekejap mata. Hilang entah ke mana rimbanya, dibawa kabur oleh para pencolong yang memanfaatkan situasi.
Ada satu cerita yang selalu membuat bulu kuduk saya berdiri. Saat saya sudah cukup besar, Bapak pernah bercerita sambil memeragakan situasi menegangkan itu dengan sangat ciamik. Dulu, dalam sebuah perhentian massa yang kepepet dan genting, Bapak kelimpungan karena dicegat dan ditanya: "Apa agamamu?"
Kata Bapak, momen itu rasanya seperti didatangi Malaikat Munkar dan Nakir, tapi versi release awal (early access) di dunia nyata. Ditanya apa agamamu, siapa penuntunmu, sambil ditatap oleh mata-mata yang penuh amarah. Untung waktu itu, dengan merapal jutaan doa dan bacaan suci yang dihafalnya sejak di Trenggalek, Bapak tidak salah jawab.
Kalau cerita ini ditulis detail dari menit ke menit, jalannya bakal terlalu dramatis.
Kalau Bang Darwis Tere Liye minat mengangkat kisah ini jadi novel, boleh langsung hubungi saya lewat email blog ini. Mas Hanung Bramantyo kalau mau adaptasi jadi film layar lebar juga sangat dipersilakan. Skenarionya sudah siap.
Di tengah gejolak perang saudara dan evakuasi kemanusiaan yang mencekam itu, Ibuk sedang mengandung saya. Saya saat itu masih berukuran sachet—janin kecil yang mengapung pasrah di dalam rahim Ibuk.
Jadi, kalau ada orang yang bertanya: Seberapa Maluku seorang Paus Minus?
Jawabannya: Setengah.
Saya memang tidak lahir di tanah Ternate. Tapi saya pernah menghirup asrinya udara damai Maluku lewat helaan napas Ibuk. Saya pernah mendengar nyiur melambai, siulan angin pantai, dan deburan ombak di kaki Gunung Gamalama lewat cerita-cerita yang dibisikkan Bapak ke perut Ibuk. Saya pernah merasakan kehangatan Maluku lewat elusan lembut tangan Kakak di atas perut Ibuk.
Demikianlah cara saya merawat ingatan dan kerinduan pada tanah seberang itu. Setengah dari diri saya—dan mungkin setengah dari porsi kebahagiaan masa kecil yang tidak pernah saya cicipi langsung—tertinggal di sana.
Suatu hari nanti, kalau ada rezeki dan umur panjang, bisa kali saya kembali ke sana. Berdiri di kaki Gunung Gamalama, menatap lautan Ternate, sambil berbisik: "Paus Minus akhirnya pulang."
Entah nanti ke sana dengan siapa, kapan waktunya, dan bagaimana caranya, saya tidak mau pusing. Kabeh wis ono sing ngatur, lan ora pernah ngawur. (Semua sudah ada yang mengatur, dan tidak pernah keliru).
Komentar
Posting Komentar
Makasih udah berani sepik ap!