Langsung ke konten utama

Mukadimah

Selamat datang di gubuk anyar saya. Seonggok wahana yang diresmikan secara bersahaja: tanpa pemotongan pita, tanpa iringan tarian tradisional, dan tanpa tumpeng nasi kuning beserta uburampennya.

Nama serius saya Rizky Saputra. Tapi, di gubuk ini —khusus di blog ini— pembaca wajib mengenal saya sebagai Paus Minus. Tidak bisa tidak!

Dan ini adalah postingan pertama saya.

Sebagai manusia yang lumayan rutin bermuhasabah, saya tahu betul bahwa netizen tidak sedang menunggu-nunggu kehadiran blog ini. Tidak ada orang yang bangun jam 5 pagi lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Duh, kapan ya seorang Rizky Saputra bikin blog?" Tidak ada.

Namun, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas eksistensi domain dan kuota internet yang sudah terlanjur saya bayar ini, saya merasa berkewajiban untuk menjawab satu pertanyaan krusial yang mungkin tidak pernah Anda tanyakan: Kenapa blog ini dinamai "Paus Minus"?

Jawabannya adalah hasil racikan dari takdir anatomi yang agak serakah, penderitaan kornea mata, dan sebuah dendam atas masa-masa agak indah di sekolah.

Mari kita bedah kata pertama: Paus.

Paus adalah mamalia laut yang tubuhnya panjang, berukuran raksasa, tapi konon hatinya sangat lembut, penyabar, dan tidak suka bikin ulah di lautan. Sifat ini pas betul dengan porsi tubuh saya. Tinggi badan saya berada di angka 185 sentimeter.

Di negara yang rata-rata tinggi pria dewasanya hampir serupa tinggi standar kulkas 2 pintu ini, tinggi 185 cm adalah sebuah kebanggaan (baca: penderitaan) tersendiri. Wajah saya tidak bisa dibilang impresif-impresif amat, tapi tinggi badan saya jelas di atas rata-rata.

Efeknya? Kalau jalan di gang sempit, saya sering dikira tiang listrik berjalan. Kalau naik angkutan umum atau mobil spesies city car, kepala saya selalu punya agenda rutin untuk adu jotos dengan atap-atapnya. Bahkan untuk ukuran pintu kamar tidur saya sendiri—postur saya ini sungguh menyiksa. Saya harus merunduk seolah-olah sedang mengheningkan cipta sepanjang perjalanan agar jidat saya tidak menghantam dinding atau kusen yang kerasnya mirip takdir WNI itu.

Dulu waktu di sekolah, gara-gara nama saya Rizky Saputra dan tubuh saya jangkung lempeng mirip bambu petung, teman-teman sekolah saya dengan teganya memanggil saya dengan julukan: Sapu.

Sebuah julukan yang sangat tidak mengangkat derajat. Di saat anak-anak lain dipanggil dengan julukan keren seperti Batista, Blacky, atau Panther, saya malah dipanggil Sapu. Alat kebersihan. Alat yang kalau dicari orang biasanya pas lagi ada kotoran atau paling gagah yaa buat mukul bocah yang rada mbeling.

Namun, setelah saya renungkan secara mendalam sambil makan gorengan yang lekas dingin (karena terlalu lama diabaikan). Saya menemukan sebuah kebetulan linguistik yang sungguh taktis. Kata SAPU kalau dibolak-balik hurufnya (dianagramkan)... Lha, dhalah! Jadi PAUS.

Ini adalah sebuah lompatan kelas sosial yang sangat signifikan. Dari alat pembersih lantai, naik kelas menjadi mamalia terbesar di muka bumi. Luar biasa.

Lalu, dari mana datangnya kata Minus?

Soal yang ini murni kontribusi dari organ penglihatan saya. Mata saya memang minus. Jarak pandang saya kalau tanpa kacamata itu sudah seperti kualitas video YouTube versi 144p: buram, patah-patah, penuh piksel, dan bikin mual. Kalau kacamata saya lepas, jangankan membedakan tetangga sama tiang telepon, membedakan mantan pacar sama spanduk Caleg saja saya sering tertukar.

Maka jadilah gabungan itu: Paus Minus.

Paus karena badan jangkung dan perubahan nasib dari julukan Sapu, serta Minus karena kondisi kornea mata yang butuh bantuan lensa. Biarlah mata dan pandangan saya yang minus, asalkan akhlak, kadar keimanan, dan saldo rekening saya tidak minus-minus amat.

Tujuan utama saya mendirikan blog Paus Minus ini sebenarnya sangat defensif. Saya ingin menjadikan blog ini sebagai mesin waktu pribadi.

Kita harus jujur, kapasitas memori otak manusia itu sangat terbatas. Kadang kita ingat kejadian lima tahun lalu, tapi lupa tadi pagi sarapan pakai lauk apa. Saya khawatir, semakin tua umur saya, memori di kepala saya bakal mengalami corrupted file. Saya takut nanti saya bakal pikun, lupa ingatan, atau nauzubillah kepala saya kebentur dinding Koperasi Desa Merah Putih gara-gara manajernya teriak komando kekencengan.

Sebelum peristiwa-peristiwa tragis nan absurd itu terjadi, saya harus mengamankan rekam jejak hidup saya di sini.

Di akhir tulisan ini, saya harus membuat sebuah pengakuan jujur (i'tiraf).

Saya ini pengagum berat Agus Mulyadi (Gus Mul), seorang blogger legendaris dari Magelang yang tulisannya selalu sanggup membuat hal-hal sepele jadi sangat lucu dan renyah. Maka jangan heran kalau di blog ini nanti Anda menemukan gaya tutur, pemilihan diksi, dan alur komedi yang sangat "Gus Mul-esque". Saya banyak meniru gaya beliau karena memang sesuka itu (dengan tulisannya).

Bahkan, saya sempat punya imajinasi liar. Kalau suatu hari nanti saya ditakdirkan untuk bersua langsung dengan Gus Mul, saya ingin sekali meluk beliau rapat-rapat. Hug yang sangat hangat dan penuh kerinduan.

Tapi pelukan itu sejatinya adalah sebuah tipu daya. Saat beliau terlena dalam kehangatan dekapan saya, tangan saya akan bergerak cepat ngglandang (menarik paksa) jersey Manchester United yang biasa beliau pakai. Lalu dengan sigap, akan langsung saya gantikan dengan jersey Liverpool.

Biar apa? Ya biar imannya dalam bersepak bola agak lurus dikit dan tidak usah terus-menerus memupuk penderitaan batin mendukung klub yang fansnya hobi takabur itu.


Begitulah kira-kira muasal dari lahirnya blog Paus Minus ini.

Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai baris ini. Silakan duduk yang tenang, siapkan secangkir kopi hitam atau jahe merah hangat, dan mari kita merawat ingatan bersama-sama di mesin waktu yang sederhana ini. Selamat membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setengah Maluku

Secara administratif, saya ini lahir, tumbuh, dan besar di Pulau Jawa. NIK KTP saya diawali angka yang menandakan saya adalah warga lokal yang sah. Tapi kalau ada orang yang bertanya seberapa jauh jiwa dan nasab saya terikat dengan tanah Maluku, jawaban saya akan selalu tegas: Setengah. Tidak kurang, tidak lebih. Setengah darah dan kebahagiaan saya tertinggal di sana, di sebuah kepulauan yang indah, di balik riak gelombang laut dan naungan Gunung Gamalama. Namun sebelum kita melangkah jauh sampai ke Maluku Utara, mari kita bicarakan dulu dua aktor utama yang bertanggung jawab atas lahirnya seorang Paus Minus ke dunia ini: Bapak dan Ibuk. Kalau ada kompetisi etos kerja tingkat nasional, saya berani bertaruh bahwa kedua orang tua saya akan melenggang mulus ke babak final. Jiwa workaholic yang ada dalam diri saya hari ini jelas tidak jatuh jauh dari pohonnya. Bapak dan Ibuk adalah tipe piantun yang rasanya kurang cocok kalau disuruh menganggur. Bahkan di era "pensiun...