Aku Cinta Polri




Jumat ini, tepatnya tanggal 8 Oktober 2026, sejak pagi badan saya sudah diliputi rasa tidak nyaman yang amat sangat. Sekujur tubuh yang panjangnya se-ujung kolor Buto Ijo ini seolah diselimuti hawa tidak sedap, gembreges, patah-patah, dan pegal-pegal bak habis berkelahi sengit lawan Thanos di Gunung Kelud. Wajar saja, sepekan kemarin pekerjaan di kantor benar-benar membanting seisi otot dan otak saya, mencincang sisa-sisa energi saya sampai mobat-mabit di hadapan tumpukan laporan akhir triwulan beserta segala ubarampenya yang "huh" itu.

Penderitaan itu makin sempurna karena selama di kantor, saya sedikit terpaksa harus bercengkerama dengan salah seorang pegawai yang sejak seminggu lalu positif terindikasi Influenza A. Apesnya, rekan kerja yang usianya nyaris dua kali lipat umur saya ini tipe orang yang kurang sadar diri: dia hobi sekali melepas masker tiap kali ngobrol berhadapan dengan saya. Tak berhenti di situ, di rumah pun Bapak dan Ibuk haqqul yaqin ketularan virus yang sama.

Meski sejak Kamis saya sudah berikhtiar keras menjaga daya tahan tubuh dengan meracik "ramuan”gabungan jahe hangat, Antangin, susu beruang yang iklannya naga tapi isinya susu sapi, jus jambu, dan segala peranakannya. Nyatanya, pertahanan ala Benteng Takeshi itu masih sanggup ditembus juga oleh virus yang sedang naik daun ini. Maka, sengaja saya mengambil cuti hari Jumat ini dan Senin depan. Niat awalnya, selain untuk mengurus Surat Keterangan Sehat Jasmani, Rohani, dan Bebas Narkoba di rumah sakit, hari Senin memang sangat cocok untuk beristirahat dari kepayahan kerja kantoran. Kalau diresapi hikmahnya, sepertinya Tuhan sedang mengabulkan skenario saya dengan sangat rapi dan presisi.

Jumat pagi, kondisi badan saya benar-benar lemas, lemah, letih, dan lesu. Namun, bukannya langsung menyantap obat pusing atau flu, saya malah tak berani meneguk satu butir obat pun. Ketakutan berlebihan mendadak menguasai kepala saya yang pening ini. Masalahnya sederhana: obat-obatan pilek dan batuk yang ada di meja saya itu mayoritas kategorinya obat keras. Lah, nanti kalau saya minum obat flu lalu pas dites urin malah terdeteksi Positif Narkoboy, bagaimana?

Apalagi tempat saya cek kesehatan hari ini adalah Rumah Sakit Bhayangkara. Iya, rumah sakit milik polisi, Bos! Kan tidak lucu kalau seorang ASN dengan postur mirip tiang listrik ini mendadak dinyatakan positif narkoboy tepat di dalam "kandang singa". Tidak lucu juga kalau esok harinya muka saya tiba-tiba dicap ala-ala artis ibu kota atau sindikat gelap yang sering nongol di akun Lambe Turah. Maka dari itu, ketimbang berisiko Positif Narkoboy gara-gara obat flu, saya lebih memilih pasrah menerima nasib Positif Influenza A saja.

Hingga tibalah saya pukul 09.00 WIB di RS Bhayangkara tersebut. Dengan menyandang badan yang semakin lemah, tak berdaya, dan tak bertenaga, saya pun memulai rangkaian tes yang diawali dengan tes urin. Di dalam bilik toilet, saya sebenarnya sudah sangat overconfidence kalau hasilnya pasti bakal negatif narkoba. Dan walhasil, tebakan saya tepat 100%. Tes bebas narkoba dan tes sehat jasmani pun berhasil saya lalui dengan easy, mulus tanpa hambatan.

Masalah utama baru muncul di sesi terakhir: tes rohani.

Tes ini mengharuskan saya mengerjakan 567 soal pilihan ganda, sebuah tes sakral yang sebenarnya sudah pernah saya lalui sebanyak tiga kali sampai saya hafal betul redaksi kalimat hingga opsi-opsi jawabannya. Di tengah kondisi kepala yang semakin keliyengan bin pusing akibat influenza, saya dibuat makin linglung oleh deretan soal yang menguji ketahanan mental itu. Tapi, di tengah kelimpungan itu, saya mendadak tersentak saat membaca beberapa butir pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kurang lebih bunyinya begini: "Saya ingin menjadi anggota Polri..."

Lalu disusul soal berikutnya yang tak kalah filosofis: "Saya mencintai institusi Polri..."

Menurut keyakinan dan penalaran saya yang sedang minus ini, model pertanyaan seperti ini sungguh sangat sulit untuk dijawab secara santai. Bagaimana tidak? Pertanyaan "Apakah Anda mencintai Polri?" ini harus saya jawab langsung di dalam Rumah Sakit milik institusi Polri itu sendiri, Bro! Psikis dan psikologis saya terguncang seketika. Di tengah kondisi fisik yang makin tidak karuan, jari tangan saya terhenti cukup lama di atas lembar jawaban soal-soal tersebut.

Saya mendadak berpikir keras dan agak paranoid. Kalau sampai saya jawab "Tidak", apakah saya akan tetap dinyatakan lulus Tes Rohani ini? Atau jangan-jangan jawaban "Tidak" bakal membuat surat sehat rohani saya ditahan lalu saya diinterogasi di ruang belakang? Bukan karena saya tidak cinta Polri, lho ya. Tapi siapa tahu kan ini semacam soal jebakan Batman, kecohan, atau tes kejujuran psikologis sejenisnya, pikir saya awalnya.

Namun setelah merenung sejenak sambil menahan pening di kepala, saya akhirnya memantapkan hati untuk memilih opsi "YA".

Ingat, saya memilih "Ya" bukan karena terpaksa, bukan pula sekadar cari aman agar surat keterangan rohani saya cepat keluar. Tapi ini murni keluar dari lubuk hati terdalam saya yang paling jujur: saya memang cinta Polri. Aku Cinta Polri! Sungguh, tidak ada alasan sama sekali untuk membenci Polri!

Bukankah slogan dan prinsipnya memang "Polri Bersama Masyarakat" dan "Polri Bersama Kita"?

Logika saya sangat sederhana. Saat masyarakat adat membutuhkan pengayoman, saat mahasiswa ingin menyuarakan aspirasi dan tuntutan di jalanan, saat orang-orang sedang lapar, saat keluarga korban tragedi kemanusiaan menuntut hak-haknya, atau saat masyarakat umum sedang sangat membutuhkan perlindungan... Polri pasti selalu ada di sana, kan?

Menurut keyakinan dan prasangka baik saya yang paling tulus di hari Jumat yang penuh berkah ini: Iya, pasti.


Komentar

  1. Wah, Ganbatte Mas

    BalasHapus
  2. Menunggu update an selanjutnya ko ga update”. Krn sibuk kerja kuliahh kali yaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Makasih udah berani sepik ap!

Postingan Populer