Seperempat Abad
Hari ini, tepat tanggal 6 September 2026, dengan sedikit rasa haru yang menggenang di kelopak mata (yang minus ini) dan lumayan ada rasa bangga yang meletup-letup di dada, saya ingin mendeklarasikan sebuah pencapaian personal: usia saya resmi menginjak angka 25 tahun. Sebuah angka yang jelas tidak bisa lagi dikategorikan sebagai belia, apalagi remaja.
Ini adalah usia yang agaknya sudah sangat tidak pantas kalau saya masih nekat njajan di luar pagar sekolah dasar, beli crepes garing yang melengkung itu, atau beli burger sepuluh ribuan yang isinya sosis tebal berwarna merah misterius. Kalau saya masih keluyuran di depan gerbang SD jam istirahat sambil pegang es lilin, saya khawatir orang tua murid bakal lapor Bhabinkamtibmas karena mengira ada oknum aneh yang sedang memantau anak-anak mereka.
Saya bersyukur, alhamdulillah, masih dikaruniai Tuhan kesempatan bernapas hingga detik ini. Melewati segala lika, liku, luka, dan penderitaan yang luar biasa. Tapi ya namanya juga hidup, kalau tidak ada ujiannya itu namanya simulasi manasik haji. Setidaknya sampai hari ini saya masih sangat percaya pada satu formula sederhana: bahwa segalanya di dunia ini memang benar-benar sementara.
Hazda sayamurru—ini akan berlalu—begitu motto hidup yang saya pegang erat-erat. Kemarin saya bisa saja bersedih, patah hati, galau berat ala anak muda yang dunianya serasa mau runtuh hanya gara-gara urusan perasaan. Tapi hari ini, selalu saja ada alasan absurd untuk tertawa lagi. Begitu pula sebaliknya: besok diguyur kebahagiaan, kesenangan, atau kabar baik, eh, tiba-tiba lusa hal duka menimpa tanpa permisi.
Namanya juga barang titipan. Kalau yang punya sudah mau mengambilnya, ya terserah Yang Nitip mau mengambilnya kapan saja. Kita cuma penyewa yang tidak punya hak buat protes.
Fyi saja, tulisan ini saya ketik persis selepas shalat Subuh. Jadi harap maklum kalau gaya bahasanya agak berlagak sufistik-filsafati begini. Efek sisa-sisa pencerahan sehabis dzikir Subuh memang suka bikin orang mendadak berjiwa Pujangga.
Saya tidak akan memakai kalimat klise seperti: "Waduh, tidak terasa ya, sudah 25 tahun saja." Tidak. Saya tidak mau mengucapkan kalimat itu. Sebab kata psikolog yang dulu pernah saya temui, menganggap waktu berlalu tanpa terasa itu adalah salah satu gejala bahwa seseorang gagal merasakan nikmatnya proses hidup dan selalu hidup dalam kondisi terburu-buru. La wong saya ini apa yang mau diburu? Mie Ayam Cak Man? Kalau umumnya orang Indonesia bilang umur segini sudah waktunya untuk berumah tangga—apalagi dalam filosofi Jawa angka 25 itu disebut selawe, yang kothak-katik gathuk-nya sering diartikan seneng lanangan lan wedokan (suka lawan jenis)—maka dalam kasus saya, agaknya proses itu baru berhenti di tahap "suka lawan jenis" saja.
Untuk memburu dan memaksakan diri harus menikah detik ini juga? Nanti dulu. Saya jauh lebih menyukai diksi memantaskan ketimbang memaksakan, jika sudah berurusan dengan ihwal pernikahan.
Karena pada dasarnya, bukankah tujuan menikah itu untuk litaskunu ilaiha? Mencari ketenangan, kedamaian, dan tempat berpulang?
Bukan sekadar menuruti gengsi sosial, memenuhi standar konyol kerabat dekat saat lebaran, atau takut tertinggal dari kawan sebaya yang foto buku nikahnya sudah dipajang di feeds Instagram. Kelas. Gaya bicara saya sudah mirip-mirip Ustaz Hanan Attaki belum?
Seperempat abad ini sungguh sebuah perjalanan yang tidak pernah saya sangka bentuknya. Takdir hidup ini jalannya sangat sulit ditebak. Lebih acak dan membingungkan ketimbang eksperimen taktik Ruben Amorim, kejutan formasi Carlo Ancelotti, atau strategi Mister Bintang Laut yang dulu pernah melatih timnas kita itu.
Saya tidak pernah membayangkan jika di usia 25 tahun ini, saya harus berhadapan dengan tumpukan berkas-berkas perkara saban hari. Berangkat kerja pas sunrise, pulang ke rumah pas sunset. Penuh dengan tenggat waktu dan aroma birokrasi yang lumayan kaku.
Padahal, kalau meminjam cita-cita masa kecil saya hingga lulus SMA dulu, saya selalu mengandaikan hidup saya akan berjalan sangat melankolis dan puitis: pagi-pagi berangkat dengan senyum merekah, siangnya mengajar anak-anak di sekolah, siang agak sore sudah sampai di rumah.
Lalu sore harinya menikmati senja sambil berpuisi dan membaca buku-buku revolusi, dilanjutkan malamnya mengajar bimbingan belajar (bimbel). Sebuah skenario mulia untuk menjelmakan apa yang dicita-citakan Ibuk saya dahulu.
Tapi realitanya? Bukannya menghadapi riuhnya suara anak-anak sekolah yang lugu, saya kini saban hari harus terbiasa dengan riuh suara panitera sidang, bentakan para pihak yang bersengketa, teriakan satpam pengadilan yang mengatur kerumunan, dan segala keriuhan serta kericuhannya.
Semua itu harus saya hadapi dengan stok kesabaran yang tebal dan ketulusan ekstra.
Namun saya selalu ingat pesan Ibuk. Beliau pernah berpesan bahwa yang namanya guru itu tidak cuma ada di dalam ruang guru atau ruang-ruang kelas di sekolah. Selagi kita berlaku baik, adil, jujur, mau berbagi, dan bisa bermanfaat bagi orang lain, kita tetap bisa menjadi "guru" di semesta mana pun tempat kita berada. Termasuk di tengah hiruk-pikuk berkas perkara dan meja hijau.
Di luar urusan pekerjaan dan krisis usia seperempat abad, ada satu hal lagi yang sangat saya syukuri: eksistensi saya sebagai fans Liverpool yang masih setia hingga detik ini. Walaupun perjalanan mendukung klub satu ini sering bikin stres, memancing emosi, bikin ngamuk, dan memicu protes, tapi kalau dada saya ini dibelah pakai pisau bedah, insyaallah isinya tetap empat huruf legendaris itu: YNWA (You'll Never Walk Alone).
Empat kata itu sampai sekarang masih menjadi kompas hidup saya. Sebuah pengingat bahwasanya ke mana pun saya melangkah dalam hidup ini, saya yakin bahwa saya tidak pernah melangkah sendirian. Ada Tuhan, ada doa orang tua, dan ada kawan-kawan baik. Tapi ya ada pengecualiannya. Kalaupun saya kedapatan melangkah sendirian tanpa teman, biasanya itu menandakan satu hal: saya sedang jalan kaki menuju warung soto langganan untuk memesan 2 mangkok soto sekaligus dalam sekali santap.
Tulisan ini sengaja saya persembahkan sebagai media apresiasi. Bentuk self-love dan self-reward yang paling bersahaja. Sebuah jembatan ingatan untuk mengapresiasi seorang Paus Minus versi sachet di masa lalu.
Dulu, untuk sekadar menulis puisi saja, saya harus menunggu ublik menyala setelah Bapak berjuang ngutang minyak tanah ke warung tetangga. Sekarang? Alhamdulillah, saya bisa menulis tulisan ini sambil rebahan santai di bawah terang benderangnya lampu kamar, sementara Bapak leyeh-leyeh di ruang tamu sambil menonton konten FB Pro di HP-nya.
Dulu, menu sarapan pagi saya adalah mie rebus yang ditaburi parutan kelapa dan disiram kecap manis. Kalau seret, minumnya Susu Tajin (air rebusan beras). Sekarang? Alhamdulillah, sekarang saya malah sering lupa sarapan gara-gara berangkat kerja terlalu pagi.
Tapi setidaknya, makan siang sudah bisa beli sendiri pakai uang hasil keringat sendiri. Kadang bahkan langsung beli 2 porsi sekaligus—sebagai bentuk balas dendam atas sarapan yang terlewat tadi pagi.
Dulu, saya selalu merengek-rengek minta uang jajan dan uang sewa rental PS ke Ibuk. Sekarang alhamdulillah sudah bisa jajan dan sewa rental PS sendiri tanpa perlu akrobat alasan. Eh, bukan cuma itu maksudnya. Yang paling bikin terharu: alhamdulillah saya sudah bisa memberi jatah uang bulanan rutin untuk Bapak dan Ibuk di rumah. Masyaallah.
Seperempat abad hidup saya ini tidak akan pernah ada apa-apanya, dan saya tidak akan pernah menjadi siapa-siapa, tanpa peran besar dari mereka berdua.
Saya ingat betul, dulu waktu kecil saya lebih sering dapat tugas "tunggu rumah" karena Bapak, Ibuk, dan Kakak semuanya bekerja.
Praktis dari zaman SMP hingga SMA, saya tidak begitu tahu dunia luar. Paling jauh, Bapak cuma mengajak saya keluar main ke Makam Bung Karno atau Kebonrojo—tempat yang lucu sekali, karena sekarang justru tiap hari saya lintasi ketika berangkat dan pulang kerja. Takdir memang suka bercanda dengan sangat rapi.
Seperempat abad ini rasanya masih sangat kurang jika dibandingkan dengan sedemikian banyak lantunan mimpi dan harapan yang masih tergantung di angan-angan untuk diwujudkan satu per satu. Maka dari itu, terima kasih yang mendalam ingin saya sampaikan kepada semua manusia baik yang sudah sudi membersamai perjalanan seperempat abad saya.
Ucapan terima kasih ini juga meluncur hangat untuk dompet lusuh saya yang masih bertahan dengan kondisi ringkih sampai saat ini, serta sepatu pantofel yang penuh jejak jahitan di ujung-ujungnya akibat menahan gempuran medan kerja.
Tak lupa untuk laptop kentang saya yang dengan ajaibnya sudah melahirkan 3 buah buku, 1 skripsi, dan terus-menerus membersamai lahirnya tulisan-tulisan aneh saya selama ini. Juga untuk helm Honda seharga motor—satu-satunya helm yang saya punya sejak zaman SMA saat pertama kali belajar naik motor—serta deretan album lagu dari Wali, Sheila On 7, Tulus, sampai Simpatik Musik yang secara random selalu setia menemani hari-hari berat saya.
Saya ingin menutup tulisan spesial ulang tahun yang panjang ini dengan sebuah harapan dan tujuan hidup yang sebenar-benarnya. Sebuah pengingat yang saya kutip dari lantunan syair yang sering dibawakan oleh Al-Maghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur):
وَلَدَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيَاً * وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورَا
فَاعْمَلْ بِخَيرٍ كَيْ تَكُونَ إِذَا بَكَواْ * في يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكَاً مَسْرُورَا
“Kau terlahir dari rahim ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa bahagia. Maka, berbuatlah kebaikan, agar ketika mereka menangis di hari kematianmu kelak, kaulah yang tersenyum dan tertawa bahagia.”
Selamat ulang tahun yang ke-25 untuk diri saya sendiri. Selamat datang di babak baru, Paus Minus!

Barakallahu fii umrik. Semoga Allah memberkahi usiamu, melimpahkan rahmat-Nya, dan menjadikanmu pribadi yang lebih baik setiap tahunya.
BalasHapusbarakallah fii umrik kii, semoga kebahagiaan selalu menghampiri yaa aamiin! dari aku, salah satu penggemar tulisanmu~
BalasHapusTetaplah hidup, tumbuh, dan berjalan. Barangkali keberadaanmu lebih berarti daripada yang pernah kau sadari. Tuhan dan Alam semesta akan selalu melindungi mu, bahagia selalu
BalasHapusBarakallah fii umrik🔥
BalasHapusSelamat bertambah usia, wahai sang peramu kata. Pertama kali mendengar karya puisimu, langsung suka dengan caramu berbahasa. Ditambah buku terbaru yang sungguh luar biasa. Saya do'akan semoga semakin banyak orang yang mengenalmu lewat karya-karyamu. Semoga bisa segera menemukan teman sehati sejiwa. Aamiin 🤲🤲🤲
BalasHapuskeren kak, pibesde yaa
BalasHapusBarakallah fii'umrik kak, semoga selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam menjalani hidup. Keren karya-karyanya, semangat terus melahirkan karya yg baru
BalasHapusWah, meski terlambat. Tapi selamat atas usia 25 tahunmu mas. diberkahi disetiap jalanmu.
BalasHapus