Jongos Paruh Waktu
Dunia hari ini sering kali riuh oleh berita tentang perselisihan rumah tangga, cekcok masalah ekonomi, dan krisis komitmen yang berujung pada antrean panjang di Pengadilan Agama. Saban hari, tempat kerja saya memang tidak pernah sepi dari para pihak yang lalu lalang membawa berkas perceraian lengkap dengan raut wajah muramnya. Melihat fenomena itu, jujur saja, ada sepercik rasa syukur yang diam-diam menyelusup di dada saya yang minus ini.
Sebab, jauh sebelum saya terbiasa melihat drama pertikaian orang dewasa, rumah yang saya tempati sejak kecil—rumah Kakek yang sampai detik ini masih saya tinggali—sudah lebih dulu menjadi arena laga. Peristiwa selepas keluarga kami mendadak pulang secara paksa dari Maluku adalah masa-masa yang sungguh berat. Hidup dalam keterhimpitan ekonomi dan keterbatasan ruang membuat atmosfer rumah seakan-akan tidak pernah absen dari Perang Baratayudha. Drama dan dinamika antara Bapak, Ibuk, serta Kakek meletup saban hari. Tak ada habisnya, tak ada jedanya.
Namun, dari medan perang domestik itulah saya terlatih menjadi manusia yang sangat nriman dan sama sekali tidak picky eater. Apapun makanan yang tergeletak di meja, asal secara biologis masih bisa ditelan dan tidak mengandung racun serangga, pasti saya makan. Nasi hangat dengan lauk taburan Masako, terasi goreng yang aromanya menyeruak ke mana-mana, serundeng kelapa, atau jika sedang beruntung: telur ceplok berlumur kecap manis. Bagi saya masa itu, telur ceplok kecap sudah masuk dalam kategori kemewahan tingkat tinggi, setara hidangan fine dining di hotel berbintang.
Tapi dari semua jenis kuliner di bumi ini, ada satu makanan yang punya takhta khusus di hati saya: Mie ayam.
Kalau Bapak sedang ada rezeki lebih atau baru dapat bonus dari bosnya, kami sekeluarga biasa diajak ke warung mie ayam langganan beliau, Mie Ayam Cak Man dekat kantor imigrasi (yang sayangnya sekarang sudah kukut alias gulung tikar). Jadi, kalau Anda mengenal saya hari ini sebagai laki-laki yang seolah-olah jatuh cinta setengah mati sama mie ayam. Percayalah, itu adalah bentuk manifestasi nostalgia saya. Mie ayam adalah self-reward sekaligus sahabat terbaik dalam sejarah tumbuh kembang saya.
Saya ingat betul salah satu momen paling berkesan bersama Bapak dan sepeda motor Smash tuanya. Waktu itu saya diajak ke Stadion Srengat untuk menyaksikan konser musik gratisan. Di sana, mendadak ada lomba joget Caesar YKS yang kala itu sedang viral-viralnya. Tanpa rasa malu dan dengan dorongan semangat dari Bapak, saya naik ke atas panggung, berjoget sekuat tenaga bak kesurupan. Takdir berkehendak saya keluar sebagai juara 2. Begitu turun panggung membawa piala, Bapak tanpa basa-basi langsung mengangkut saya naik Smash tua dan meluncur deras menuju warung mie ayam. Itu adalah salah satu piala dengan konversi mie ayam terbaik dalam hidup saya.
Bapak selalu menuturi saya untuk selalu menepis semua keraguan hidup dan tidak perlu mendengarkan suara sumbang apa pun di sekitar. Sebuah petuah yang sangat luhur, meskipun pada praktiknya, astaga... sulitnya setengah mati untuk dijalankan.
Sebab, sewaktu kecil dulu, bullying atau perundungan sudah merajalela dengan kadar yang begitu gila dan ngeri. Bedanya dengan sekarang, dulu tidak ada kamera HP buat merekam. Dulu saya tidak sebesar dan sejangkung 185 cm seperti sekarang. Saya ini dulu wujudnya mungil, kecil, kucel, kumal, buluk, dan bau apeknya sungguh autentik.
Penderitaan itu tidak cuma terjadi di sekolah formal, tapi juga merembet sampai ke bangku Madrasah Diniyah (Madin/TPQ). Untung saja waktu itu saya punya mental sekuat Goku dan Kamen Rider Ryuki—dua idola masa kecil yang selalu mengajari saya untuk tidak gampang mati. Walaupun ya, hati saya tetap saja selembut Hachi si anak lebah yang mencari ibunya, atau Tsubasa Ozora yang menangis kalau impiannya nyaris gagal.
Bullying di masa itu hadir dalam format lengkap: fisik dan verbal. Secara fisik, tubuh mungil saya sudah jadi langganan samsak gratisan sewaktu anak-anak yang sok jagoan itu ingin menang sendiri saat bermain. Saya selalu diposisikan sebagai pihak yang kalahan, dihajar, dan dihujami berbagai macam hukuman konyol. Jadi, kalau Anda merasa Setya Novanto atau Ammar Zoni dapat banyak hukuman dari negara, percayalah, saya dulu juga dapat hukuman bertubi-tubi. Bedanya, hukuman saya hadir tanpa proses meja hijau, tanpa kehadiran hakim, tanpa surat dakwaan, dan tanpa pembacaan vonis yang sah.
Pulang ke rumah dengan tubuh lebam-lebam sudah jadi rutinitas. Demi menjaga perasaan orang rumah, saya terpaksa merangkai berbagai macam skenario kebohongan yang absurd. Mulai dari alasan cedera di lapangan sepak bola, kena tackle brutal dari Maradona, sampai alasan ditonjok Mike Tyson yang nyasar ke Blitar. Semua alasan konyol itu sudah pernah saya pakai.
Tak berhenti di situ, bullying verbalnya bahkan menyasar sampai ke sosok Bapak saya. Ini bukan sekadar ceng-cengan sebut nama bapak yang umum di kalangan anak-anak. Ini lebih tidak beradab. Saya masih ingat betul, ketika jam istirahat Madin bertepatan dengan jam pulang kerja Bapak. Saat Bapak melintas menaiki sepeda onthel bututnya dengan peluh yang belum kering, teman-teman Madin dengan teganya meneriaki saya dengan kata-kata yang lebih sampah dari sampah pasar: "Bapakmu tai! Bapakmu mambu!"
Dada saya rasanya mau meledak. Tapi kalau saat itu saya mengamuk dan nekat membalas, badan saya yang mungil ini bisa dipastikan bakal lebih remuk dihajar mereka. Kalaupun saya mengadu ke Bapak, yang ada masalahnya justru makin panjang dan makin rumit. Apalagi anak-anak yang mengatai itu tergolong tajir mlintir di masanya—ada yang anak polisi dan jajaran elit lokal lainnya. Sebagai anak jangkung versi kucel yang keluarganya sedang dihimpit ekonomi, mau melawan pakai power apa?
Puncak dari segala penderitaan itu adalah gelar tidak resmi yang saya sandang bertahun-tahun di Sekolah Dasar: Jongos.
Sebuah sebutan yang mungkin anak zaman sekarang harus buka KBBI dulu untuk tahu artinya. Jongos itu sejenis pembantu, pesuruh, atau budak. Kata yang dulu sering diuntaikan di sinetron-sinetron layar kaca sebelum Lembaga Sensor dan KPI bekerja seserius sekarang. Sewaktu badan saya masih ringkih dan tak berdaya, saya adalah langganan pesuruh bagi teman-teman yang punya power lebih.
Percaya atau tidak, sewaktu saya kelas 4 SD, murid laki-laki di kelas saya cuma tersisa 5 biji. Sisanya ke mana? Dongkol alias tinggal kelas di kelas 3. Kelas 3 saat itu terkenal sangat mengerikan di bawah asuhan almarhumah Bu Ratmini. Puluhan anak laki-laki tinggal kelas lantaran kenakalannya sendiri yang sudah menembus langit. Itulah sebabnya, meskipun secara tingkatan grade kelas saya lebih tinggi dari mereka, saya yang kucel ini malah dijadikan pesuruh atau "Jongos Paruh Waktu" oleh anak-anak dongkol yang badannya jauh lebih bongsor itu.
Saban hari, saya pulang sekolah bukan cuma membawa tas sendiri, tapi juga memboyong tumpukan LKS, buku Tunas, dan buku paket milik orang-orang itu untuk saya kerjakan di rumah. Iya, saya yang menggarap tugas-tugas mereka. Jadi, kalau sekarang saya terlihat agak rajin dan sedikit pintar di tempat kerja, ya mungkin salah satu faktor pemicunya adalah "pelatihan paksa" dari pengalaman menjadi Jongos Paruh Waktu di masa SD dulu.
Kenapa saya tidak melawan? Dicaci, dihina, direndah-rendahkan, dan dijadikan budak LKS, kenapa tidak melawan? Jawabannya sederhana: karena saya tidak punya power dan keberanian untuk itu. Saya berada di dasar rantai makanan sekolah.
Sampai akhirnya, sebuah titik balik yang dramatis itu tiba. Kelas saya kedatangan seorang siswi baru, seorang murid pindahan. Tanpa alasan yang jelas, siswi baru ini seperti menjadikan saya crush-nya. Seumur-umur hidup jadi anak kucel, belum pernah hamba merasa se-dikejar dan dipedulikan itu oleh seorang lawan jenis.
Suatu hari, setelah melihat saya pasrah menerima tumpukan buku dari anak-anak jagoan itu, siswi baru ini berjalan mendekati saya. Dengan mata menyala dan nada suara yang tinggi, dia memarahi saya di depan banyak orang: "Kok mau kamu jadi jongos mereka?!"
Blegarrr!
Kalimat pendek itu rasanya seperti menyambar tepat di atas kepala saya. Saya tersadar, tertampar, dan terhentak seketika. Efek tamparan verbalnya rasanya mirip seperti dihantam telapak tangan Dwayne 'The Rock' Johnson tepat di muka. Rasa malu dan kesadaran diri meledak bersamaan. Hari itu juga, status saya sebagai Jongos Paruh Waktu resmi saya bubarkan tanpa pesangon. Saya sadar, tubuh boleh mungil dan baju boleh apek, tapi harga diri tidak boleh terus-menerus diinjak sampai habis.
Mengingat kembali masa-masa kelam itu hari ini tidak membuat saya dendam. Justru, peristiwa-peristiwa itu menjadi cermin tebal bagi perjalanan hidup saya di usia 25 tahun ini.
Dunia ini memang sering kali tidak ramah pada mereka yang lemah dan tak berdaya. Namun, penderitaan masa lalu—entah itu gejolak di dalam rumah, cemoohan di jalanan, atau status jongos di sekolah—adalah bahan bakar terbaik yang menempa mental kita menjadi lebih keras dari dinding pengadilan. Jangan pernah membiarkan orang lain mendikte nilai dirimu hanya karena kamu sedang berada di bawah. Sebab roda kehidupan itu berputar, dan Gusti Allah tidak pernah kehabisan cara untuk mengangkat derajat seorang "Paus Minus" yang dulunya dianggap tak ada harganya ini.

Masya Allah, terimakasih telah bertahan sejauh ini mas Rizky, we love you so much ✨🤍🥺
BalasHapusKetika pengalaman getir di tangan seorang penulis menjadi penggalan kisah yang menginspirasi 👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapusDitunggu part lanjutan edisi crush2an 🤭😂🤭😂
Mas Riz, kayaknya aku penggemar anonym baru kamu hehe. Mungkin efek dari bullying itu tidak bisa hilang seketika, aku dulu juga pernah merasakan di bully tapi versi latennya. But you should know, that you are so precious more than you know. Btw aku sekarang jadi suka karya sastra yg ada unsur satirnya gara" kamu haha. Sukses ya, dari aku sesama penggemar mie ayam😋
BalasHapusemm tb”jd penggemar e sampean mas
BalasHapus